JT.COM – Pemerintah Provinsi Bengkulu menggandeng investor internasional untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperluas pasar produk unggulan daerah melalui Bencoolen Regional Investment and Economic Forum (BRIEF) 2026.
Forum bertema “Connecting Opportunities, Driving Economic Transformation” itu dibuka Wakil Gubernur Bengkulu, Mian, di Hotel Mercure Bengkulu, Senin (12/10/2026). Kegiatan ini mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, dan mitra bisnis internasional untuk menjajaki peluang investasi serta perdagangan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, mengatakan investasi menjadi salah satu penggerak penting pertumbuhan ekonomi. Modal yang masuk diharapkan mampu meningkatkan produksi, membuka lapangan kerja, dan memperkuat daya saing daerah.
“Kalau kita bicara pertumbuhan ekonomi, investasi itu game changer. Kenapa? Karena untuk pertumbuhan ekonomi butuh amunisi, butuh modal,” ujar Wahyu dalam forum tersebut.
Menurutnya, BI mendorong investasi dalam negeri maupun asing. Kehadiran investor luar negeri juga diharapkan memperkuat pembiayaan sektor produktif dan mendukung penerimaan devisa.

Wakil Gubernur Bengkulu, Mian, mengatakan pemerintah daerah terus membuka peluang bagi investor untuk mengembangkan potensi ekonomi Bengkulu.
Hingga triwulan II 2026, realisasi investasi Bengkulu mencapai Rp2,85 triliun atau 49,67 persen dari target tahunan sebesar Rp5,75 triliun.
“Bengkulu memiliki potensi ekonomi yang besar dan terbuka bagi investor. Karena itu, kita harus memperkuat sinergi dan kolaborasi agar peluang investasi yang ada dapat direalisasikan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Mian.
Pemprov Bengkulu juga berkomitmen mempermudah pelayanan investasi melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). Pemerintah akan mengawal proses perizinan hingga realisasi investasi.
Mian berharap investasi yang masuk tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat usaha lokal, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing produk Bengkulu.
BRIEF 2026 turut memperkenalkan potensi komoditas unggulan Bengkulu kepada mitra internasional, mulai dari kopi, minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), karet, hingga gaharu. Sektor perdagangan dan pariwisata juga menjadi bagian dari peluang yang ditawarkan.
Forum ini menghadirkan perwakilan diplomatik dan mitra usaha dari sejumlah negara. Wahyu menyebut Duta Besar Belarus, Wakil Duta Besar Palestina, serta perwakilan Kedutaan Tunisia turut hadir dalam rangkaian kegiatan. Forum tersebut juga melibatkan mitra dari Jepang, Korea Selatan, Pakistan, dan Malaysia.

Menurut Wahyu, promosi langsung penting karena sebagian delegasi belum mengenal potensi ekonomi Bengkulu secara mendalam.
“Buat mereka ternyata baru kali pertama datang ke Bengkulu. Jadi mereka penuh rasa ingin tahu, ada apa di Bengkulu, karena selama ini belum banyak terekspos Bengkulu punya apa,” ungkapnya.
Dari berbagai komoditas yang diperkenalkan, kopi menjadi salah satu produk yang paling menarik perhatian delegasi.
“Rata-rata kopi,” kata Wahyu saat ditanya mengenai komoditas yang paling diminati.
Selain kopi, gaharu juga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bahan baku industri parfum dan produk bernilai tambah. Namun, Wahyu mengingatkan bahwa ketertarikan investor membutuhkan tindak lanjut sebelum menjadi investasi nyata.
“Investasi itu tidak seperti makan cabai, digigit sekarang langsung terasa pedasnya,” ujarnya.
Karena itu, BRIEF diharapkan menjadi awal komunikasi bisnis, penjajakan kerja sama, dan perluasan jaringan investasi Bengkulu dengan pasar internasional.
Selain investasi, BRIEF mendorong peningkatan ekspor komoditas unggulan. Data Januari–Agustus 2026 yang dipaparkan dalam forum menunjukkan India menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Bengkulu dengan nilai US$21,97 juta, naik dari US$13,46 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Ekspor ke Pakistan juga meningkat dari US$3,68 juta menjadi US$9,32 juta. Sebaliknya, ekspor ke Filipina turun dari US$9,79 juta menjadi US$7,77 juta.
Ekspor ke kawasan ASEAN turut menurun, dari US$29,62 juta pada Januari–Agustus 2025 menjadi US$11,59 juta pada periode yang sama 2026. Data ini menunjukkan perlunya memperluas pasar sekaligus menjaga daya saing produk daerah.
Wahyu menjelaskan, pengembangan Regional Investor Relations Unit (RIRU) menjadi salah satu upaya untuk memperkuat hubungan investasi dan perdagangan.
“Kalau kita bicara RIRU, tidak hanya investasi masuk, tetapi perdagangan juga kita dorong. Karena semakin banyak kita mengekspor komoditas yang surplus, maka devisa juga bisa masuk,” jelasnya.
BI Bengkulu juga mendorong pengembangan pariwisata dan UMKM agar manfaat pertumbuhan ekonomi menjangkau lebih banyak masyarakat.
Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara dapat menggerakkan berbagai sektor, mulai dari perhotelan, transportasi, kuliner, hingga produk suvenir dan kerajinan lokal.
Pengembangan industri wastra, khususnya Batik Besurek, juga menjadi perhatian. BI mendorong pelaku UMKM melindungi motif dan desain melalui pendaftaran hak kekayaan intelektual (HKI), termasuk melalui sinergi dengan Kementerian Hukum.
“Besurek identik dengan Bengkulu. Kita dorong UMKM untuk mendaftarkan hak kekayaan intelektualnya. Jangan sampai warisan kekayaan kita justru diklaim di tempat lain,” tegas Wahyu.
Ia menambahkan, kegiatan promosi dan festival dapat memperluas pasar UMKM serta meningkatkan transaksi masyarakat.
“Semakin banyak UMKM yang berjualan, semakin banyak yang berbelanja, ini bisa menggerakkan ekonomi kita,” katanya.
Di tengah dorongan investasi, BI juga menaruh perhatian pada stabilitas harga. Wahyu menyampaikan bahwa inflasi Bengkulu hingga September 2026 berada di kisaran 3,3 persen. Ia memperkirakan inflasi hingga akhir tahun berada di sekitar 3 persen, masih dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.
Menurutnya, ketersediaan pasokan pangan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga. Karena itu, pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) perlu berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan produksi.
“Kita mesti jaga supaya cabai produksinya bagus, padi juga produksinya bagus, komoditas strategis lainnya juga pasokannya cukup,” ujarnya.
Melalui BRIEF 2026, Pemprov Bengkulu dan BI berharap investasi, ekspor, pariwisata, serta pengembangan UMKM dapat saling memperkuat. Upaya tersebut diharapkan membuka lebih banyak peluang usaha, memperluas pasar produk lokal, dan mendorong pertumbuhan ekonomi Bengkulu secara berkelanjutan. (Yl)











Discussion about this post