JT.COM – Prestasi olahraga tidak cukup dibangun melalui latihan dan pertandingan. Atlet muda juga membutuhkan pendidikan yang mendukung, fasilitas memadai, serta pembinaan berkelanjutan agar bakat mereka berkembang secara optimal.
Harapan itu disampaikan Yanti, orang tua Juniarta Setiawan, atlet bulu tangkis PB Porpu, saat mendukung penyelenggaraan Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) PBSI Bengkulu 2026, Jumat (16/10/2026).
Ia berharap pemerintah kembali memperkuat pembinaan atlet muda, salah satunya melalui pengaktifan Sekolah Menengah Keberbakatan Olahraga (SMANKO) Bengkulu.
Menurut Yanti, kejuaraan seperti Kejurprov menjadi kesempatan penting bagi atlet untuk menguji kemampuan, menambah pengalaman, dan meningkatkan mental bertanding. Namun, pembinaan tidak boleh berhenti setelah pertandingan selesai.
Yanti menceritakan, Juniarta mulai menekuni bulu tangkis sejak duduk di kelas II sekolah dasar (SD). Sejak itu, anaknya rutin mengikuti berbagai perlombaan.
Kini, Juniarta telah duduk di kelas II sekolah menengah pertama (SMP) dan terus berusaha mengembangkan kemampuannya.
“Dari kelas II SD, anak saya sudah mengikuti bulu tangkis dan berbagai perlombaan. Sekarang sudah kelas II SMP dan masih terus ikut pertandingan,” ujar Yanti.
Melihat perjalanan anaknya, Yanti menilai atlet muda membutuhkan sistem pembinaan yang mampu mengakomodasi pendidikan sekaligus latihan.
Ia berharap pemerintah dan pihak terkait kembali memberi perhatian serius kepada anak-anak yang memiliki bakat dan prestasi olahraga.
Salah satu harapannya adalah mengaktifkan kembali SMANKO Bengkulu. Menurutnya, sekolah khusus olahraga dapat menjadi ruang bagi atlet untuk mengembangkan kemampuan tanpa mengabaikan pendidikan formal.
“Harapan saya, anak-anak yang berprestasi ini bisa dirangkul lagi. Kalau bisa, sekolah keberbakatan olahraga diaktifkan kembali agar mereka mendapat tempat khusus untuk belajar dan berlatih,” katanya.
Yanti berharap program pembinaan tersebut dapat menjangkau berbagai cabang olahraga. Atlet bulu tangkis, sepak bola, dan cabang lainnya perlu mendapat kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai potensi masing-masing.
Ia menilai, dukungan sekolah, pelatih, fasilitas latihan, dan program pembinaan yang terarah akan membantu atlet menjalani pendidikan sekaligus meningkatkan prestasi. Dengan sistem yang tepat, mereka juga memiliki peluang lebih besar untuk bersaing di tingkat nasional.
Yanti mengungkapkan, Juniarta ingin melanjutkan pembinaan bulu tangkis ke Pulau Jawa agar dapat lebih fokus mengembangkan kemampuannya.
Keinginan tersebut menunjukkan bahwa atlet muda membutuhkan lingkungan latihan yang mendukung perkembangan mereka.
Namun, Yanti juga berharap atlet berprestasi tidak harus meninggalkan Bengkulu hanya untuk memperoleh pembinaan yang lebih baik.
Menurutnya, daerah perlu menghadirkan kesempatan yang memadai agar atlet muda bisa tumbuh, berlatih, dan menempuh pendidikan dengan baik di daerah sendiri.
“Kalau anak-anak yang berprestasi ini dirangkul dan diberikan tempat untuk berkembang, mereka bisa lebih fokus. Harapan saya, sekolah keberbakatan olahraga bisa diaktifkan kembali untuk semua cabang olahraga,” tutupnya.
Bagi Yanti, masa depan atlet muda Bengkulu tidak hanya ditentukan oleh hasil pertandingan. Dukungan pendidikan, pembinaan yang konsisten, serta fasilitas yang memadai juga menjadi kunci untuk melahirkan atlet berprestasi.
Karena itu, ia berharap penguatan pembinaan olahraga dan pengaktifan kembali SMANKO Bengkulu dapat menjadi perhatian bersama demi membuka lebih banyak peluang bagi generasi muda yang ingin berprestasi. (Yl)











Discussion about this post