JT.COM – Program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dijalankan di berbagai daerah, termasuk Kota Jambi. Program ini dinilai bermanfaat dalam pemenuhan gizi anak sekolah, namun pemerintah juga mewaspadai potensi dampaknya terhadap inflasi pangan.
Wali Kota Jambi, Maulana, mengatakan program MBG merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak usia sekolah. Meski demikian, peningkatan permintaan bahan pangan pokok perlu diantisipasi agar tidak memicu kenaikan harga.
“Program MBG sangat strategis untuk peningkatan gizi masyarakat. Namun, lonjakan permintaan pangan bisa berdampak pada inflasi jika tidak diantisipasi. Maka, diperlukan sinergi dengan pemerintah pusat dan Bank Indonesia,” ujar Maulana dalam rapat capacity building bersama Bank Indonesia, BPS, OPD, dan Forkopimda di Jambi, Rabu (20/8/2025).
Hingga kini, sebanyak 42 dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi di Kota Jambi. Jumlah itu masih kurang dari target 62 dapur yang ditetapkan. Pemerintah daerah optimistis dapat memenuhi kekurangan 20 dapur lainnya dalam waktu dekat.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jambi, Warsono, menilai program MBG sejauh ini belum menimbulkan risiko inflasi signifikan. Namun, ia menegaskan bahwa kestabilan pasokan pangan tetap menjadi faktor penting.
“Kenaikan permintaan telur, ayam, dan bahan pokok lainnya akibat MBG harus diimbangi dengan kestabilan pasokan. Jika tidak dijaga, potensi inflasi bisa muncul secara perlahan,” kata Warsono.
Bank Indonesia mencatat proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2025 berada di kisaran 4,3–5,1 persen. Meski demikian, inflasi pangan diperkirakan tetap menjadi tantangan utama, terutama di tengah pelaksanaan program berbasis gizi seperti MBG yang menyasar sektor pendidikan dan kesehatan masyarakat.
Pemerintah Kota Jambi menegaskan komitmennya untuk mengawal distribusi dan pengawasan harga agar program pemenuhan gizi ini berjalan lancar tanpa menimbulkan gejolak ekonomi lokal. (Yol)
Discussion about this post