JT.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jambi mencatat kinerja industri jasa keuangan (IJK) di Provinsi Jambi tumbuh stabil dan positif hingga Juni 2025. Pertumbuhan ini ditopang oleh meningkatnya aktivitas ekonomi, membaiknya kepercayaan konsumen, serta inovasi di berbagai segmen industri jasa keuangan.
Kepala OJK Provinsi Jambi menyebutkan, sektor perbankan menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan kredit/pembiayaan sebesar 6,12 persen (yoy), terutama untuk pemilikan peralatan rumah tangga.
Selain itu, transaksi pasar modal naik signifikan sebesar 162,71 persen (yoy), meliputi saham dan reksa dana. Sementara itu, pembiayaan industri keuangan nonbank (IKNB) meningkat 2,95 persen (yoy), ditopang oleh perusahaan pembiayaan.
“OJK Jambi terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lain melalui program literasi, edukasi keuangan, serta Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Kepala OJK Jambi dalam keterangan tertulisnya, Senin (25/8/2025).
Kredit Bank Umum (BU) di Jambi pada Juni 2025 tumbuh 6,41 persen (yoy) menjadi Rp55,81 triliun, terdiri atas kredit konvensional Rp48,71 triliun dan pembiayaan syariah Rp6,60 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga naik 9,47 persen (yoy) dengan dominasi DPK perbankan konvensional Rp44,08 triliun dan syariah Rp4,63 triliun.
Loan to Deposit Ratio (LDR) BU tercatat 114,57 persen, lebih tinggi dibandingkan LDR nasional 87,55 persen. Rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga di angka 1,78 persen, di bawah rata-rata nasional 2,20 persen.
Berdasarkan penggunaan, kredit masih didominasi konsumsi (42,38 persen), investasi (30,02 persen), dan modal kerja (27,60 persen). Sementara itu, penyaluran kredit ke UMKM tercatat sebesar 46,76 persen.
Namun, penyaluran kredit Bank Perkreditan Rakyat (BPR) mengalami penurunan 7,67 persen (yoy) menjadi Rp1,02 triliun, diikuti penurunan DPK sebesar 11,85 persen (yoy).
Pada sektor IKNB, Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) menyalurkan pembiayaan Rp3,27 miliar dengan outstanding Rp361,22 juta, turun 7,02 persen (yoy). Perusahaan pembiayaan menyalurkan Rp8,68 triliun, sementara industri modal ventura mencatat pembiayaan Rp130,45 miliar, naik 19,77 persen (yoy).
Di sisi lain, jumlah investor pasar modal di Jambi mencapai 146.775 SID atau naik 17,29 persen (yoy). Nilai transaksi saham tercatat Rp1,58 triliun (naik 140,41 persen yoy), sedangkan reksa dana Rp436,71 miliar (naik 295,30 persen yoy).
OJK Jambi juga melaksanakan 96 kegiatan edukasi keuangan hingga Juli 2025 dengan peserta lebih dari 10 ribu orang. Lembaga ini menerima 128 pengaduan konsumen, didominasi perbankan dan IKNB.
Masyarakat diimbau lebih waspada terhadap tawaran investasi ilegal. “Kami meminta masyarakat selalu memeriksa legalitas perusahaan melalui portal waspada investasi OJK sebelum melakukan transaksi,” tegas Kepala OJK Jambi.
Untuk memperluas akses keuangan, OJK Jambi bersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) melaksanakan sepuluh program kerja sepanjang Juni 2025, termasuk Focus Group Discussion dan product matching sektor keuangan di sejumlah kabupaten/kota.
“Sinergi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan menjadi kunci mempercepat inklusi keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di Jambi,” tambahnya. (*/Red)
Discussion about this post