JT.COM – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) KBM Universitas Bengkulu menggelar kegiatan bedah buku dan gerakan literasi mahasiswa, Kamis (21/5/2026).
Kegiatan itu menjadi ruang diskusi intelektual untuk membangun budaya membaca dan meningkatkan kesadaran kritis mahasiswa terhadap persoalan sosial, lingkungan, sejarah, hingga kemanusiaan.
Agenda literasi tersebut dibuka langsung Presiden Mahasiswa Universitas Bengkulu, M Ghifar Alfarizsy, bersama Menteri Luar Negeri BEM KBM UNIB.
Dalam sambutannya, Ghifar menegaskan pentingnya menghidupkan kembali budaya literasi dan aktivisme mahasiswa di tengah berbagai persoalan bangsa.
Menurutnya, perubahan besar tidak lahir secara instan, tetapi dimulai dari kebiasaan sederhana seperti membaca dan berdiskusi.
“Literasi menjadi langkah awal membangun kesadaran intelektual generasi muda dan memperkuat peran mahasiswa sebagai bagian dari peradaban bangsa,” ujar Ghifar.
Usai sambutan, seluruh peserta mengikuti sesi membaca bersama selama 15 menit sebagai simbol dimulainya gerakan literasi mahasiswa.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi bedah buku “Supernova Series 4” karya Dee Lestari yang dipaparkan Menteri KPKM BEM KBM UNIB.
Dalam diskusi itu, peserta membahas tokoh Firas dan Zarah yang menggambarkan hubungan manusia dengan alam, kesadaran diri, serta kritik terhadap cara manusia memperlakukan lingkungan.
Diskusi berkembang pada isu kerusakan lingkungan, eksploitasi alam, hingga proyek pembangunan seperti food estate yang dinilai menimbulkan dampak ekologis.
Kegiatan ini juga menghadirkan pendiri komunitas literasi dari Universitas Dehasen Bengkulu, Ikhsan, yang membedah buku “Reset Indonesia”.
Ia menyoroti berbagai persoalan lingkungan, kerusakan hutan, hingga eksploitasi sumber daya alam yang dinilai berdampak pada krisis ekologis dan sosial di Indonesia.
Selain isu lingkungan, forum diskusi juga membahas buku “Mereka yang Hilang Tak Pernah Kembali” yang mengangkat berbagai kasus pelanggaran HAM di Indonesia, termasuk peristiwa penghilangan paksa dan aksi Kamisan.
Peserta diajak memahami pentingnya melihat sejarah secara kritis dan terbuka terhadap berbagai persoalan kemanusiaan.
Menteri Luar Negeri BEM KBM UNIB, Ales Arta, mengatakan kegiatan tersebut menjadi langkah awal membangun budaya membaca di kalangan generasi muda.
“Kegiatan ini membuka forum diskusi dan belajar bersama, sehingga menjadi langkah awal Gen Z mulai menyukai buku, baik fiksi maupun nonfiksi,” ujar Ales Arta.
Ia berharap budaya membaca dan diskusi buku dapat terus tumbuh di lingkungan kampus dan menjadi kebiasaan positif mahasiswa.
Melalui kegiatan itu, mahasiswa tidak hanya diajak membaca buku, tetapi juga memahami realitas sosial, sejarah, lingkungan, dan kemanusiaan secara lebih kritis dan terbuka. (Yl)














Discussion about this post