JT.COM – Di tengah keberhasilan Kepala Desa Air Terjun, Wisal Putra yang belum lama ini meraih penghargaan Hutan Adat dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, muncul sorotan lain terkait pengelolaan destinasi wisata desa. Salah satu yang paling disorot adalah Objek Wisata Air Terjun Batu Kuho yang kini tidak terurus dan terbengkalai.
Padahal, Air Terjun Batu Kuho pernah menjadi salah satu destinasi andalan warga setempat yang dikenal hingga tingkat nasional.
Pemerintah desa sebelumnya bahkan telah mengalokasikan dana mencapai ratusan juta rupiah untuk pengembangan wisata tersebut. Namun, hingga kini hasilnya tak terlihat, bahkan fasilitas yang ada sudah banyak mengalami kerusakan.
Dari pantauan Kondisi akses jalan menuju lokasi juga semakin memprihatinkan. Jika sebelumnya kendaraan roda empat bisa masuk hingga dekat area wisata, saat ini justru kendaraan roda dua pun kesulitan menembus jalur yang rusak parah.
Situasi ini membuat jumlah pengunjung menurun drastis, sehingga potensi ekonomi masyarakat sekitar ikut terhambat.
Warga Desa Air Terjun menyayangkan minimnya perhatian pemerintah desa terhadap pengelolaan Air Terjun Batu Kuho. Mereka berharap ada langkah konkret dari pemerintah desa maupun pemerintah daerah untuk memperbaiki akses dan kembali menghidupkan sektor pariwisata di kawasan tersebut.
“Sayang sekali, dulu Air Terjun Batu Kuho ramai, sekarang sepi. Jalan rusak, tempatnya tidak terawat. Padahal bisa jadi sumber pendapatan desa,” ungkap salah satu warga.
“Masalah hutan adat jauh sebelum Kades yang sekarang menjabat, hutan adat itu sudah di SK kan oleh kementerian, dan juga sudah beberapa kali mendapat penghargaan,” tambahnya.
Dengan kondisi ini, masyarakat menilai penting adanya evaluasi terhadap penggunaan dana yang telah digelontorkan, sekaligus menagih komitmen pemerintah desa dalam mengelola potensi wisata yang seharusnya menjadi aset bersama.
Sementara itu Kepala Desa Air Terjun Wisal Putra saat di hubungi mengatakan, Objek wisata Air Terjun Batu Kuho sebenarnya tetap diurus. Hanya saja jumlah pengunjung mulai menurun sejak tahun 2020, jauh sebelum saya menjabat sebagai kepala desa.
“Apalagi saat itu kondisi ekonomi masyarakat sedang sulit, ditambah lagi adanya pandemi Covid-19 yang menjadi salah satu faktor utama berkurangnya wisatawan. Jadi penurunan ini terjadi jauh sebelum masa jabatan saya,” ungkapnya. (Dko/Yol)
Discussion about this post