JT.COM – Tanggal 1 Mei kembali diangkat sebagai momentum refleksi sejarah sekaligus penguat persatuan Papua dalam bingkai NKRI. Pesan ini disampaikan Steve R. E. Mara, mahasiswa doktoral asal Papua di Inggris yang juga menjabat Ketua Melanesian Youth Diplomacy Forum.
Menurut Steve, pemahaman sejarah Papua harus utuh agar tidak menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat. Ia menegaskan, proses integrasi Papua ke Indonesia merupakan bagian dari dinamika dekolonisasi yang melibatkan dunia internasional.
Steve menjelaskan, perjalanan sejarah Papua tidak bisa dilepaskan dari berbagai proses diplomasi global, mulai dari Konferensi Meja Bundar hingga Perjanjian New York.
Puncaknya terjadi pada 1 Mei 1963, saat Papua resmi diserahkan kepada Indonesia melalui mekanisme yang difasilitasi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Ini bagian dari sejarah yang harus dipahami secara utuh. Integrasi Papua merupakan hasil proses panjang yang diakui secara internasional,” ujarnya.
Steve mengingatkan generasi muda Papua agar tidak terjebak dalam perdebatan masa lalu. Ia mendorong anak muda untuk mengambil peran aktif dalam pembangunan.
“Generasi muda harus meningkatkan kualitas diri dan ikut membangun daerah serta bangsa,” tegasnya.
Ia menilai pendidikan dan keterlibatan di berbagai sektor menjadi kunci kemajuan Papua ke depan.
Selain itu, Steve juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak akurat. Menurutnya, narasi yang keliru bisa memicu perpecahan.
“Jaga persatuan. Jangan mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak jelas kebenarannya,” katanya.
Momentum 1 Mei dinilai bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi juga pengingat pentingnya menjaga keutuhan bangsa. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan generasi muda menjadi kunci menciptakan Papua yang aman dan damai.
Dengan semangat persatuan, Steve optimistis Papua akan terus berkembang dan berkontribusi besar dalam pembangunan nasional. (Humas Polri/Yl)
















Discussion about this post