JT.COM – Aksi Hari Bumi 2026 di Bengkulu berlangsung tak biasa, aktivis membentangkan spanduk di atas aliran Sungai Lemau, Selasa (28/4/2026), sebagai simbol krisis ekologis yang kian parah.
Aksi ini digelar WALHI Bengkulu bersama Genesis Bengkulu, BEM Universitas Bengkulu, BEM UNIHAZ, dan Hima Sylva UNIB dalam Aliansi Muda Melawan. Massa turun langsung ke sungai menggunakan perahu.
Spanduk berisi kritik tajam terhadap pemerintah dibentangkan di tengah Sungai Lemau. Lokasi ini dipilih sebagai simbol kerusakan lingkungan yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
Tak hanya itu, massa juga menggelar mimbar bebas di atas jembatan. Orasi bergema, menyoroti tanggung jawab negara atas degradasi sungai hingga ancaman banjir di wilayah Pondok Kelapa, Bengkulu Tengah.
“Kerusakan Sungai Lemau bukti kegagalan negara. Ini krisis yang dibiarkan,” tegas Julius Nainggolan, Kadiv Advokasi WALHI Bengkulu.
Kritik juga datang dari Genesis Bengkulu. Mereka menilai kerusakan sungai akibat model pembangunan yang abai lingkungan.
“Sungai dijadikan objek, masyarakat jadi korban. Ini pembiaran sistematis,” ujar Egi, Direktur Genesis Bengkulu.
Aksi berlangsung damai, namun sarat tekanan. Massa menuntut langkah konkret, bukan sekadar wacana.
Mahasiswa menyoroti lambannya respons pemerintah pusat. Mereka mendesak Presiden Prabowo Subianto segera turun tangan.
“Krisis ini butuh tindakan langsung, bukan laporan di atas meja,” kata Presiden BEM UNIB, Gifar.
Presiden BEM UNIHAZ, Pajar, menambahkan:
“Kalau terus diabaikan, gelombang perlawanan rakyat akan membesar.”
Di tengah aksi, warga ikut bersuara. Mereka merasakan langsung dampak kerusakan lingkungan.
“Kami hidup dari sungai. Sekarang kondisinya berubah. Kami takut rumah hilang,” ujar Ibu Nosi dari Kelompok Perempuan Sungai Lemau.
Aliansi Muda Melawan menyampaikan lima tuntutan utama:
- Penanganan darurat Sungai Lemau
- Keterlibatan aktif Kementerian PUPR
- Pengawasan konkret Komisi V DPR RI
- Langkah tegas Presiden
- Hentikan pembiaran kerusakan lingkungan
Aksi ini disebut bukan yang terakhir. Massa berjanji akan terus mengawal hingga ada tindakan nyata.
Krisis Sungai Lemau menjadi peringatan keras. Saat lingkungan rusak, bukan hanya alam yang terancam—tetapi juga kehidupan masyarakat. (Yl)
















Discussion about this post