• Beranda
  • Disclaimer
  • Hak Jawab & Koreksi Berita
  • Iklan & Kerja Sama
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Tentang Kami
Minggu, 4 Oktober 2026
Jabung Today
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • EKBIS
  • KABAR TNI/POLRI
  • OTOMOTIF
  • NASIONAL
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PARLEMEN
  • HUKRIM
  • BINTAN
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • EKBIS
  • KABAR TNI/POLRI
  • OTOMOTIF
  • NASIONAL
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PARLEMEN
  • HUKRIM
  • BINTAN
Morning News
No Result
View All Result
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • EKBIS
  • KABAR TNI/POLRI
  • OTOMOTIF
  • NASIONAL
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PARLEMEN
  • HUKRIM
  • BINTAN

Pertumbuhan, Transformasi dan Cara Keliru Membaca Pembangunan Daerah

Redaksi by Redaksi
08/01/2026
in OPINI
0
Yulfi Alfikri Noer S. IP., M. AP (Dok. Penulis)

Yulfi Alfikri Noer S. IP., M. AP (Dok. Penulis)

PostTweetShareScan

Oleh: Yulfi Alfikri Noer S. IP., M. AP

Dalam diskursus pembangunan daerah, kerap muncul anggapan bahwa pertumbuhan ekonomi yang belum disertai perubahan struktur industri adalah pertumbuhan semu. Dari cara baca semacam ini lahir kesimpulan yang serba cepat yaitu, ekonomi memang tumbuh, tetapi tidak mengalami transformasi.

Baca juga

M. Lisman Puja Kesuma Berpulang, H. Suharto Sampaikan Duka

03/10/2026

Polri Mutasi 88 Pati dan Pamen, Sejumlah PJU Mabes dan Kapolda Berganti

03/10/2026

Polresta Bengkulu Hadir Jaga Keamanan dan Keselamatan Pengunjung Pantai Zakat

03/10/2026

Patroli Teluk 01 Polsek Teluk Segara Sasar Lokasi Rawan, Cegah 3C dan Balap Liar

03/10/2026

Kapolres Mukomuko Bersama Ketua Bhayangkari Salurkan Bantuan ke Ponpes Miftahul ’Ulum

03/10/2026

Subdit Wisata Dit Pamobvit Polda Bengkulu Intensifkan Patroli Dialogis di Pantai Panjang dan Pasir Putih

03/10/2026

Sekilas, pandangan tersebut terdengar kritis dan menggugah. Namun jika ditelisik lebih dalam, perspektif semacam ini cenderung menyederhanakan proses pembangunan yang pada hakikatnya kompleks, bertahap dan sangat kontekstual.

Untuk memahami persoalan ini, kita perlu kembali pada gagasan klasik Karl Polanyi dalam The Great Transformation, yang menegaskan bahwa ekonomi tidak pernah hadir sebagai ruang netral yang berdiri sendiri. Ekonomi selalu “tertanam” (embedded) dalam struktur sosial, kelembagaan dan relasi kekuasaan yang membentuk arah sebuah masyarakat. Karena itu, transformasi tidak cukup dibaca sebagai pergeseran angka atau perubahan komposisi statistik, melainkan sebagai perubahan orientasi politik pembangunan, tentang bagaimana negara memaknai perannya, kepada siapa kebijakan diarahkan dan nilai apa yang hendak ditegakkan.

Ketika transformasi direduksi menjadi sekadar indikator teknokratis, yang tereduksi bukan hanya realitas sosial, tetapi juga legitimasi politik pembangunan itu sendiri, sebab kebijakan yang kehilangan makna sosial perlahan kehilangan kepercayaan publik. Di titik inilah, pertanyaan tentang pembangunan berubah dari soal seberapa besar pertumbuhan, menjadi soal seberapa adil dan bermaknanya pertumbuhan itu bagi kehidupan bersama.

Selanjutnya, pemikir kontemporer seperti Dani Rodrik menegaskan bahwa tidak ada satu formula tunggal menuju transformasi. Setiap daerah memiliki konteksnya sendiri, dari basis sumber daya hingga kapasitas institusi yang mempengaruhi jalur pembangunan.

Dalam One Economics, Many Recipes, Rodrik mengecam pendekatan seragam yang menuntut industrialisasi cepat tanpa memperhatikan konteks domestik.

Menurutnya, transformasi berkelanjutan sering tumbuh dari kebijakan kontekstual, bereksperimen dan berjalan secara bertahap bukan loncatan statistik yang instan. Dalam praktik kebijakan, pendekatan kontekstual yang menekankan eksperimen bertahap tersebut pada akhirnya menuntut satu hal yang lebih mendasar: keberanian politik negara untuk secara sadar memilih jalur pembangunan tertentu dan menanggung konsekuensinya lintas waktu.

Dalam konteks inilah, Ha-Joon Chang dalam Kicking Away the Ladder menunjukkan bahwa neg ara-negara yang kini menjadi rujukan pembangunan justru tumbuh melalui keberanian politik untuk melakukan proteksionisme terukur dan intervensi negara yang aktif.

Mereka tidak menunggu tercapainya struktur ekonomi yang ideal sebelum bertindak, melainkan membangun struktur tersebut melalui keputusan kebijakan yang konsisten dan berjangka panjang. Ini menegaskan bahwa transformasi ekonomi bukan sekadar persoalan pemenuhan indikator teknis, tetapi hasil dari pilihan politik pembangunan yang secara sadar memanfaatkan keunggulan komparatif dengan tetap secara bertahap membangun kapasitas dan daya saing baru dengan konsekuensi kebijakan yang harus dijaga lintas periode pemerintahan.

Pierre Bourdieu menambahkan dimensi yang sering dilupakan, modal tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga kultural dan sosial. Transformasi ekonomi menuntut perubahan habitus kerja, kemampuan adaptasi dan sistem nilai kolektif yang kondusif bagi inovasi. Tanpa perubahan kultural ini, program industrialisasi atau diversifikasi akan bersifat top-down dan sering kali tidak berkelanjutan.

Mariana Mazzucato, melalui gagasan state as a market shaper, memberi kita kerangka berpikir baru tentang peran negara. Bukan sekadar fasilitator, negara perlu menjadi aktor yang aktif dalam menciptakan pasar, bukan hanya meresponsnya. Pendekatan ini relevan ketika sebuah daerah tengah berproses membangun infrastruktur, kapasitas kelembagaan dan ekosistem ekonomi produktif. Kebijakan publik yang bersifat visioner bukan hanya reaktif merupakan bagian penting dari transformasi yang berdampak jangka panjang.

Dalam realitas pembangunan daerah, sulit untuk mengklaim bahwa transformasi sudah terjadi hanya berdasarkan perubahan komposisi PDRB dalam satu periode anggaran. Pertumbuhan yang moderat, jika dihasilkan melalui kebijakan fiskal yang hati-hati namun konsisten, bisa menjadi fondasi bagi diversifikasi ekonomi kedepan.

Infrastruktur yang dibangun mungkin belum langsung mengubah struktur industri, namun ia menciptakan jaringan konektivitas yang membuka peluang hilirisasi dan integrasi ke pasar yang lebih luas. Namun, keberhasilan fondasi ekonomi tersebut tidak dapat dilepaskan dari dampaknya terhadap struktur pasar kerja, karena di sanalah pertumbuhan diuji bukan sebagai angka, melainkan sebagai pengalaman sosial masyarakat.

Persoalan ketenagakerjaan sering dijadikan bukti bahwa transformasi belum berjalan. Memang, tingginya sektor informal dan pekerja rentan adalah kenyataan struktural yang tidak bisa disangkal. Namun transisi dari informal ke formal bukan proses otomatis, perubahan tersebut adalah hasil dari rangkaian kebijakan pendidikan, pelatihan keterampilan dan penciptaan ekosistem usaha produktif yang konsisten. Menyederhanakan fenomena ini sebagai “statistik tanpa makna” justru mereduksi diskursus menjadi nihilisme yang tidak produktif.

Kritik terhadap pembangunan pada dasarnya merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi. Namun kritik yang berhenti pada penegasan normatif bahwa transformasi “belum terjadi” berpotensi mereduksi perdebatan kebijakan menjadi penilaian hitam-putih yang miskin konteks.

Yang lebih mendesak untuk dibaca secara jernih bukan semata apa yang belum tampak berubah di permukaan, melainkan arah kebijakan apa yang sedang dirancang, prasyarat apa yang tengah dibangun dan kapasitas institusional apa yang sedang diperkuat agar perubahan struktural itu dapat berlangsung secara berkelanjutan. Dalam kerangka ini, pembangunan harus dipahami sebagai proses politik dan administratif yang panjang, melibatkan konsolidasi kebijakan, keberanian melakukan eksperimen terukur, penguatan tata kelola, serta pembelajaran kolektif lintas waktu dan kepemimpinan.

Pada titik inilah penting ditegaskan bahwa pertumbuhan dan transformasi bukanlah konsep yang saling meniadakan, melainkan dua dimensi yang bekerja dalam satu lintasan kebijakan yang berkelanjutan. Pertumbuhan yang dikelola dengan kesadaran institusional, keterlibatan aktor lokal dan keberpihakan sosial justru menjadi medium bagi terjadinya transformasi itu sendiri. Tantangan yang dihadapi bukan sekadar mengoreksi angka, melainkan memastikan bahwa setiap capaian pertumbuhan secara konsisten diarahkan pada perubahan struktural yang adil, inklusif dan berkelanjutan.

Penulis adalah Akademisi UIN STS Jambi

Previous Post

Drainase DD Pasar Sebelah Disorot, Warga Nilai Pekerjaan Tak Sesuai Spesifikasi

Next Post

Sinergi TP PKK dan BAZNAS Jambi Wujudkan Masyarakat Cinta Al-Qur’an

Artikel lainnya

Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S. (Dok. Penulis)
OPINI

Bandara Sultan Thaha: Upaya Membuka Langit Jambi, Membuka Masa Depan

by Redaksi
17/06/2026
Ir. Syahrasaddin, M.Si. (Dok. Penulis)
OPINI

MBG Jambi :  Dari Piring Anak Menuju Penguatan Ekonomi Desa

by Redaksi
17/06/2026
Prof. Dr. H. Syamsir, S.H., M.H. (dok. Penulis)
OPINI

Perspektif Hukum: Dasar Hukum Hibah Aset Daerah dalam Sistem Pemerintahan Indonesia

by Redaksi
07/06/2026
Syahrasaddin (Dok. Penulis)
OPINI

Strategi Pemerintah Daerah Menghadapi Efisiensi Anggaran Pusat

by Redaksi
05/06/2026
Yulfi Alfikri Noer S. IP., M. AP (Dok. Penulis)
OPINI

SDM sebagai Fondasi Hilirisasi di Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur

by Redaksi
04/06/2026
Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S. (Dok. Penulis)
OPINI

Dari Migas, Kelapa, Sawit, hingga Kekuatan Maritim Masa Depan

by Redaksi
04/06/2026
Next Post
Ketua TP PKK Provinsi Jambi Hj. Hesnidar Haris (berkerudung hijau) bersama Ketua II BAZNAS Provinsi Jambi Sri Rahayu berdialog dengan relawan Gazacqu dalam kegiatan pembelajaran Al-Qur’an di Sekretariat TP PKK Provinsi Jambi, Kamis (8/1/2026) (Dok. Stepanus)

Sinergi TP PKK dan BAZNAS Jambi Wujudkan Masyarakat Cinta Al-Qur’an

Wakil Gubernur Jambi Abdullah Sani (tengah) bersama Wakapolda Jambi Brigjen Pol. Mirza Mustaqim meninjau panen raya jagung Kuartal I Tahun 2026 di Desa Tunas Mudo, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi, Kamis (8/1/2026), (Dok. Stepanus)

Hadiri Panen Jagung, Wagub Sani Dukung Program Perkuat Kedaulatan Pangan Daerah dan Nasional

Kepala BPTD Kelas II Jambi Benny Nurdin Yusuf (kiri) dan Kepala Dinas Sosial Kota Jambi Yunita Indrawati menunjukkan dokumen Nota Kesepahaman usai penandatanganan kerja sama penanganan orang terlantar dan ODGJ di Terminal Tipe A Alam Barajo, Kota Jambi, Senin (6/1/2026). (Dok. Daus)

Perkuat Sinergi Sosial, BPTD Jambi dan Dinsos Kota Jambi Teken MoU

Personel ENJOY BAND melakukan cek sound di panggung utama Lapangan Eks MTQ Provinsi Jambi, Kamis (8/1/2026) (Dok. Daus)

Rampungkan Cek Sound, ENJOY BAND Siap Tampil di Jambi Mantap Fest 2026

Badan Pengurus Daerah (BPD) ABUJAPI Provinsi Bengkulu menggelar syukuran HUT ke-45 Satpam, Kegiatan berlangsung di Gedung BPMP Kota Bengkulu, Kamis (8/1/2026). (Dok/yola)

Syukuran HUT ke-45 Satpam, ABUJAPI Bengkulu Tekankan Peran Mitra Polri

Discussion about this post

Iklan

Populer

    Beranda -- Disclaimer -- Hak Jawab & Koreksi Berita -- Iklan & Kerja Sama -- Kode Etik -- Pedoman Media Siber -- Redaksi -- SOP Perlindungan Wartawan -- Tentang Kami

    Jl.Ternate, RT 03 No 49 Kel. Kebun Handil, Kec. Jelutung, Kota Jambi Kode Pos 36137
    Email : jabungtoday@gmail.com
    Phone / WA : 0813-1302-4411

    Copyright© 2026 Jabungtoday.com
    Developed by - OMG

    No Result
    View All Result
    • ADVERTORIAL
    • DAERAH
    • EKBIS
    • KABAR TNI/POLRI
    • OTOMOTIF
    • NASIONAL
    • OPINI
    • PEMERINTAHAN
    • PARLEMEN
    • HUKRIM
    • BINTAN