JT.COM – Gelaran HYDROPLUS Sirkuit Nasional (Sirnas) B Bengkulu 2026 bukan sekadar perebutan gelar juara. Turnamen yang berlangsung 17–22 Agustus 2026 ini menjadi panggung pembuktian atlet muda sekaligus ruang untuk menemukan bibit baru menuju level nasional.
Ketua Pengprov PBSI Bengkulu, Suharto, menilai Sirnas B membawa dampak besar bagi daerah. Tidak hanya bagi perkembangan bulu tangkis, tetapi juga masyarakat dan perekonomian Bengkulu.
“Kalau kita bicara dampak, secara makro tentu kegiatan ini mempunyai pengaruh besar terhadap Provinsi Bengkulu. Khususnya bagi masyarakat dan komunitas bulu tangkis,” kata Suharto, Selasa (18/8/2026).
Menurut Suharto, Sirnas menjadi bagian penting dalam mengukur hasil pembinaan atlet di klub. Para pemain mendapat kesempatan menguji kemampuan sekaligus menambah pengalaman di level nasional.
“Sekarang mereka diuji. Para juara inilah yang menjadi bibit untuk diorbitkan ke Pelatnas. Harapannya, mereka bisa mewakili Indonesia dan mengibarkan Merah Putih di dunia internasional,” ujarnya.
Suharto juga optimistis Bengkulu kembali menjadi tuan rumah Sirnas A. Menurutnya, keberhasilan Sirnas B dapat menjadi pijakan untuk meningkatkan level penyelenggaraan.
“Keyakinan saya, Sirnas B ini akan berlanjut ke Sirnas A di Bengkulu. Kalau sesuai rencana, tentu ada peluang,” katanya.
Ia menegaskan olahraga, khususnya bulu tangkis, memiliki peran penting bagi Indonesia. Prestasi atlet di tingkat dunia ikut membawa nama Merah Putih dan memperkuat persatuan bangsa.
“Jangan meremehkan olahraga. Bulu tangkis membawa Merah Putih berkibar di dunia internasional. Olahraga juga menjadi bagian dari pemersatu bangsa,” tegas Suharto.
Suharto melihat Sirnas B Bengkulu 2026 dari sisi yang lebih luas. Kehadiran atlet, pelatih, ofisial, keluarga dan tamu dari berbagai daerah ikut menggerakkan ekonomi masyarakat.
Hotel, kuliner, transportasi hingga UMKM berpotensi mendapat manfaat dari penyelenggaraan turnamen tersebut.
“Jangan hanya melihat dampaknya untuk olahraga. Kalau kita cerdas, kegiatan seperti ini bisa menghidupkan ekonomi kerakyatan,” ujarnya.
Ia berharap Bengkulu mampu menarik lebih banyak pengunjung dari luar daerah.
“Kita harus bisa menyedot pengunjung dan pejabat dari daerah lain datang ke Bengkulu. Dengan begitu, ada keseimbangan ekonomi,” katanya.

Dewan Pengawas PP PBSI, H. Ferliy, turut mengapresiasi penyelenggaraan Sirnas B Bengkulu 2026. Ia menilai Pengprov PBSI Bengkulu mampu menyiapkan venue dan infrastruktur dengan baik.
“Dampaknya sangat luar biasa. Kami melihat kesiapan PBSI Bengkulu sangat baik. Venue yang digunakan juga megah dan mampu menjadi tempat penyelenggaraan event nasional,” kata Ferliy.
Ia berharap turnamen tersebut melahirkan atlet berprestasi dari Bengkulu.
“Insyaallah nanti akan lahir atlet-atlet berprestasi. Tidak hanya di tingkat regional, tetapi juga nasional. Bahkan bukan tidak mungkin menjadi pemain nasional,” ujarnya.
Menurut Ferliy, Bengkulu juga memiliki peluang menjadi tuan rumah Sirnas A jika mampu mempertahankan kualitas penyelenggaraan.
“Dengan kesiapan seperti ini, tidak menutup kemungkinan tahun depan bisa ditingkatkan,” katanya.
Referee Nasional, Saihoni Anwar, mengatakan Sirnas B Bengkulu 2026 diikuti 468 atlet dari 124 klub. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Pertandingan terbagi dalam tiga kelompok usia, yakni usia dini, anak-anak dan pemula.
Kelompok usia dini mempertandingkan tunggal putra dan putri. Kelompok anak-anak terdiri atas tunggal putra, tunggal putri, ganda putra dan ganda putri.
Sementara kelompok pemula mempertandingkan tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri dan ganda campuran.
“Total ada 11 kelompok pertandingan dalam HYDROPLUS Sirnas B Bengkulu 2026,” ujar Saihoni.
Persaingan berlangsung ketat. Setiap atlet datang dengan target masing-masing.
Namun, Bengkulu tidak dapat menurunkan dua atlet andalannya karena harus mengikuti ajang O2SN pada waktu bersamaan.
“Kita sebenarnya sangat kehilangan karena dua atlet itu menjadi andalan Bengkulu. Namun, pada waktu yang sama mereka memilih mengikuti O2SN,” katanya.
Sirnas B menggunakan sistem gugur. Setiap pertandingan memakai format best of three game dengan skor 21 poin.
Saihoni menambahkan, format 15 poin dalam tiga gim masih dalam tahap sosialisasi. Format tersebut direncanakan mulai diterapkan pada September 2026.
Bagi Bengkulu, Sirnas B 2026 menjadi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan daerah dalam menggelar turnamen nasional sekaligus membangun prestasi atlet.
Jika kualitas penyelenggaraan terus dijaga dan pembinaan atlet berjalan konsisten, peluang Bengkulu menjadi tuan rumah Sirnas A semakin terbuka.
Lebih dari sekadar podium juara, arena Sirnas B Bengkulu kini menjadi tempat atlet muda ditempa. Dari sini, bibit baru diharapkan tumbuh dan melangkah menuju panggung nasional hingga internasional. (Yl)
















Discussion about this post