JT.COM – Media memiliki peran penting dalam membuka peluang ekonomi daerah. Lewat pemberitaan yang akurat dan informatif, jurnalis dapat memperkenalkan potensi lokal kepada masyarakat sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas.
Hal itu menjadi perhatian dalam Pelatihan Wartawan Ekonomi yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Bengkulu di Hotel Safanak, Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Selasa (8/9/2026).
Kegiatan mengusung tema “Sinergi Bank Indonesia dan Media dalam Mengomunikasikan Kebijakan dan Mengangkat Potensi Ekonomi Daerah.”
Pelatihan ini menjadi ruang bagi wartawan untuk memperkuat pemahaman tentang perkembangan ekonomi sekaligus menggali potensi daerah dari berbagai sudut pandang.
Kepala KPW BI Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuana Hidayat, menilai media tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi.
Menurutnya, pemberitaan dengan perspektif ekonomi dapat membantu masyarakat memahami kebijakan, melihat peluang usaha, dan mengenal produk unggulan Bengkulu.
“Media bukan hanya menyampaikan informasi. Pemberitaan yang dikemas dengan perspektif ekonomi juga dapat memperkenalkan potensi daerah dan membuka peluang yang lebih luas,” ujar Wahyu.
Ia mengatakan informasi yang konstruktif dapat membangun kepercayaan dan optimisme masyarakat.
Pemberitaan tentang potensi lokal juga dapat menjadi sarana promosi yang mempertemukan produk daerah dengan konsumen, investor, hingga pasar nasional dan internasional.
Wartawan memiliki ruang besar untuk mengangkat berbagai sektor yang berpotensi menggerakkan ekonomi Bengkulu.
Pertanian, perkebunan, UMKM, pariwisata, ekonomi kreatif, hingga produk olahan masyarakat dapat menjadi sumber berita bernilai ekonomi.
Pemberitaan yang konsisten dan berbasis data dapat meningkatkan perhatian terhadap produk lokal. Dampaknya, potensi daerah semakin mudah dikenal pasar.
Namun, pemberitaan ekonomi membutuhkan ketelitian. Jurnalis tidak cukup hanya mengejar kecepatan.
Wartawan perlu memahami data, kebijakan, rantai produksi, persoalan pelaku usaha, hingga dampaknya bagi masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, berita tidak berhenti sebagai informasi harian. Pemberitaan dapat menjadi bagian dari edukasi sekaligus penguatan ekosistem ekonomi daerah.
Salah satu potensi yang mendapat perhatian dalam pelatihan tersebut adalah Kopi Bengkulu.
Komoditas perkebunan ini mulai memiliki peluang lebih besar di pasar internasional melalui pengembangan ekspor langsung.
Kondisi tersebut menunjukkan produk lokal dapat naik kelas jika kualitas dan rantai pasok terus diperkuat.
Wahyu menekankan pentingnya keterlacakan produk, penguatan kelembagaan petani, serta pembangunan merek atau branding Kopi Bengkulu.
Langkah itu diperlukan agar kopi Bengkulu tidak berhenti sebagai komoditas mentah. Produk tersebut harus memiliki identitas dan nilai tambah yang kuat.
Media dapat mengambil peran dalam proses tersebut. Jurnalis dapat mengangkat cerita petani, proses budidaya, kualitas biji kopi, pengolahan, hingga perjalanan Kopi Bengkulu menuju pasar ekspor.
Cerita tersebut tidak hanya menarik bagi pembaca. Pemberitaan yang konsisten juga dapat memperkuat citra produk dan memperluas pengenalan Kopi Bengkulu.
Pelatihan wartawan ekonomi juga menjadi ruang untuk memperkuat sinergi antara Bank Indonesia, media, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat.
Kolaborasi tersebut penting agar informasi ekonomi tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Informasi harus mampu menggambarkan kondisi dan peluang yang ada di lapangan.
Media dapat menjadi jembatan antara kebijakan dan masyarakat. Sementara pemerintah, BI, dan pelaku usaha perlu menyediakan data serta informasi yang dapat membantu jurnalis menghasilkan berita berkualitas.
Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan materi ekonomi daerah dan pelatihan barista bagi wartawan peserta.
Pelatihan barista memberikan pengalaman langsung mengenai industri kopi. Peserta melihat bagaimana komoditas dari sektor hulu dapat diolah menjadi produk bernilai tambah di sektor hilir.
Ke depan, sinergi BI dan media diharapkan terus berkembang. Semakin banyak potensi ekonomi Bengkulu perlu mendapat ruang pemberitaan yang berkualitas.
Mengangkat potensi daerah bukan berarti mengabaikan fungsi kontrol pers. Jurnalis tetap harus memegang prinsip independensi, verifikasi, keberimbangan, dan kode etik jurnalistik.
Justru dengan prinsip tersebut, media dapat menghadirkan informasi yang dipercaya sekaligus membantu masyarakat melihat peluang ekonomi di sekitarnya.
Pers akhirnya bukan hanya menjadi pencatat pembangunan. Media juga dapat ikut membuka wawasan, memperluas pasar, dan memperkenalkan kekuatan ekonomi Bengkulu ke tingkat nasional hingga internasional. (Yl)


















Discussion about this post