JT.COM – Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 membawa angin segar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ajang yang digelar Bank Indonesia pada 20–23 Agustus 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, mencatat transaksi besar sekaligus membuka peluang pasar baru bagi UMKM.
KKI 2026 resmi ditutup Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, pada Minggu (23/8/2026). Tahun ini, sebanyak 560 UMKM mengikuti pameran secara luring. Sementara 1.860 UMKM lainnya tampil melalui platform digital KKI.
Produk yang ditawarkan beragam. Mulai dari wastra, ready to wear, makanan dan minuman, home decor, hingga berbagai karya kreatif generasi muda.
Bank Indonesia juga mempertemukan UMKM dengan berbagai pemangku kepentingan. KKI 2026 melibatkan lebih dari 27 kementerian, 24 asosiasi, praktisi, akademisi, influencer, hingga sektor perbankan.
Hasilnya cukup signifikan. Total penjualan selama KKI 2026 mencapai Rp144,2 miliar.
Business matching yang mempertemukan 192 UMKM dengan mitra dari 16 negara juga mencatat nilai transaksi Rp169,9 miliar. Sementara pembiayaan perbankan kepada UMKM mencapai Rp285 miliar.
Aida menilai capaian tersebut patut diapresiasi. Terlebih, pelaksanaan KKI berlangsung di tengah kondisi ekonomi global yang berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.
“Setiap tahun, dengan penuh rasa syukur kami adakan KKI agar UMKM Indonesia bisa terus tumbuh, tangguh, dan berdaya saing,” ujar Aida dalam seremoni penutupan KKI 2026 di JICC Jakarta, Minggu (23/8/2026).
Menurut Aida, transaksi dan promosi saja belum cukup. UMKM membutuhkan ekosistem yang mampu menjaga pertumbuhan usaha secara berkelanjutan.
“UMKM perlu mempunyai ekosistem yang menjadi tujuan berkelanjutan agar tumbuh, tangguh, dan berdaya saingnya UMKM Indonesia terus berlangsung,” katanya.
Bank Indonesia juga memberi perhatian pada persoalan pembiayaan UMKM.
Tantangannya bukan sekadar ketersediaan dana. Kesiapan usaha, persepsi risiko, rekam jejak keuangan, serta kemampuan mempertemukan UMKM dengan lembaga keuangan turut menentukan akses pembiayaan.
Karena itu, Bank Indonesia memperkuat UMKM dari sisi hulu hingga hilir.
Upaya tersebut mencakup peningkatan kapasitas usaha, penguatan rekam jejak keuangan, peningkatan visibilitas UMKM, hingga perluasan akses pasar.
Bank Indonesia kemudian mempertemukan pelaku usaha dengan lembaga pembiayaan.
“Bank Indonesia berperan sebagai katalis dalam memperkuat pembiayaan UMKM dari sisi supply dan demand,” kata Aida.
Dari sisi supply, Bank Indonesia mendorong pembiayaan melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Kebijakan tersebut memberikan insentif likuiditas kepada perbankan yang menyalurkan pembiayaan ke sektor UMKM.
Bank Indonesia juga menggunakan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) untuk mendorong pembiayaan yang lebih inklusif.
Sementara dari sisi demand, digitalisasi pembayaran melalui QRIS membantu UMKM membangun rekam jejak transaksi usaha.
“Penguatan ekosistem pembiayaan UMKM ke depan memerlukan komitmen yang konsisten, inovasi yang adaptif, serta sinergi yang semakin erat antara Bank Indonesia, Pemerintah, sektor keuangan, dan pemangku kepentingan lainnya,” ujar Aida.
KKI 2026 juga menjadi momentum bagi UMKM Bengkulu untuk memperluas pasar hingga mancanegara.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu bersama Dekranasda dan Dharma Wanita Provinsi Bengkulu membawa 38 UMKM Bengkulu ke ajang tersebut.
Sebanyak 32 UMKM mengikuti kegiatan secara online. Enam UMKM lainnya tampil secara offline.
Partisipasi itu menghasilkan penjualan online sebesar Rp1,195 miliar. Sementara penjualan offline mencapai Rp49,20 juta.
Prestasi UMKM Bengkulu juga terlihat dari agenda business matching.
UMKM Kopi Bukit Barisan berhasil menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan Indonesia Specialty Coffee. Kesepakatan tersebut mencakup pemesanan 500 kilogram green bean kopi Robusta Bengkulu.
Nilai kontrak awal mencapai Rp35,5 juta.
Capaian lain datang dari CV Jaya Rasa. UMKM sektor makanan dan minuman itu mendapat kontrak sebanyak 500 pcs makanan kecil Perut Punai untuk pasar Afrika Selatan.
Nilai kontraknya mencapai USD1.500.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menilai capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi produk daerah.
“Produk UMKM Bengkulu dapat diterima pasar luar negeri. Ini membuktikan bahwa UMKM Bengkulu layak bersaing dan bersanding dengan UMKM lain di Indonesia untuk mendunia,” ujar Wahyu.
Menurutnya, fasilitasi business matching ekspor menjadi langkah konkret untuk membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha daerah.
Bank Indonesia Provinsi Bengkulu mengajak seluruh pemangku kepentingan menjaga momentum tersebut.
Kolaborasi antara pemerintah, perbankan, korporasi, dan pelaku usaha perlu terus diperkuat. Ekosistem yang kuat akan memberi ruang lebih besar bagi UMKM Bengkulu untuk berkembang.
Pelaku usaha juga perlu meningkatkan kapasitas, memperkuat merek, memanfaatkan digitalisasi, dan berani masuk ke pasar ekspor.
KKI 2026 menunjukkan bahwa peluang tersebut terbuka.
Dari Jakarta, produk UMKM Bengkulu mulai melangkah ke pasar yang lebih luas. Produk lokal tidak hanya memiliki peluang bersaing di dalam negeri, tetapi juga mulai menembus pasar global. (Yl)
















Discussion about this post