JT.COM – Komisi III DPRD Provinsi Bengkulu menyoroti kerusakan oprit Jembatan Air Martan yang belum lama ini menjadi perhatian publik.
DPRD langsung memanggil Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) BPBD Provinsi Bengkulu, Nopan, untuk meminta penjelasan detail terkait proyek tersebut.
Rapat evaluasi tidak hanya membahas kerusakan fisik jembatan, tetapi juga menguliti proses perencanaan proyek secara menyeluruh.
Komisi III menilai persoalan Jembatan Air Martan harus dilihat secara komprehensif agar kejadian serupa tidak terulang. Evaluasi meliputi perhitungan hidrologi, desain konstruksi, hingga kesiapan teknis pelaksanaan proyek.
DPRD juga menyoroti proses perencanaan yang dinilai cukup panjang. Proyek ini diketahui sudah diusulkan sejak 2022, namun dokumen Detail Engineering Design (DED) baru selesai pada 2025.
Hal tersebut menjadi bahan evaluasi agar proyek infrastruktur ke depan lebih matang dan tepat waktu.

Dalam rapat tersebut, Nopan menjelaskan pemerintah telah mengambil langkah tanggap darurat agar akses masyarakat tetap berjalan.
“Jembatan tetap difungsikan, namun ini masih tahap sementara sambil menunggu penanganan lanjutan,” ujar Nopan, Selasa (5/5/2026)
Ia mengatakan proyek tersebut kini masih dalam proses pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Pemerintah masih menunggu Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) untuk menentukan tindak lanjut berikutnya.
Hasil pembahasan sementara mengungkap kondisi alam menjadi salah satu faktor utama kerusakan oprit jembatan.
Karakter aliran sungai di lokasi dinilai cukup kompleks karena dipengaruhi arus banjir, arus normal, hingga pasang laut.
Kondisi pasang disebut memicu pusaran air yang menggerus bagian bawah oprit.
Untuk mengatasi masalah itu, pemerintah berencana memperkuat struktur pelindung menggunakan batu kali dan lapisan geotekstil.
Pemerintah juga akan menggandeng akademisi untuk mengkaji kondisi hidrologi secara lebih mendalam. Kajian itu akan menjadi dasar penentuan metode teknis dan sistem pondasi yang paling sesuai dengan karakter tanah di lokasi.
Dalam waktu dekat, tim gabungan dari unsur pemerintah, DPRD, akademisi, dan rekanan akan turun langsung ke lapangan.
Sementara itu, oprit jembatan masih berada pada tahap open traffic atau pemadatan tanah menggunakan kendaraan yang melintas. Setelah kepadatan dinilai optimal, struktur sementara akan dibongkar untuk pemasangan pelat injak permanen.
Ke depan, pemerintah menargetkan pembangunan ulang dengan konstruksi yang lebih kokoh dan berumur panjang.
Desain baru akan disesuaikan dengan kondisi alam agar mampu bertahan menghadapi tekanan arus sungai dan perubahan cuaca ekstrem. (Adv/Yl)
















Discussion about this post